Mahasiswa
Yak, kita mulai aja blog ini, yang melatar belakangi gw buat nyoba mengulas permasalahan ini adalah adanya berita tentang tawuran mahasiswa di Jakarta beberapa waktu lalu..
Mengherankan bukan? Mahasiswa yang sudah dianggap sebagai insan dewasa dan berpendidikan pula, harus memakai jalan kekerasan hanya untuk menunjukkan jati dirinya, menunjukkan ego kelompok, kesuperioritasan terhadap kampus lain mungkin. Itulah orang2 yang selalu dibebani anggapan masyarakat sebagai harapan bangsa menuju perubahan yang lebih baik. Tulisan ini bukan untuk menggeneralisir seluruh mahasiswa yang ada di Indonesia, karena saya tau bahwa ada banyak juga mahasiswa yang mengisi hari2nya, detik2 dalam kehidupannya dengan kerja keras, atau dengan diskusi2 dan berorganisasi. Kawan2 idealis yang masih punya mimpi merubah takdir yang ada.Balik ke masalah, ada beberapa sendi yang bergeser dalam kehidupan mahasiswa, saat masa saya SMP, tawuran tu didominasi oleh anak2 SMA, di daerah saya hampir setiap hari ada tawuran antar SMA plus hampir setiap tawuran ada korban (meski di beberapa kampus ada juga budaya adu kuat ini). Mungkin karena yang dulu SMA sekarang dah pada kuliah, atau merajalelanya narkoba yang membuat ada "lahan" baru yang bisa dijadiin pelampiasan sehingga ada pergeseran lokasi tawuran. Atau bisakah diambil kesimpulan bahwa mahasiswa sekarang sedewasa anak SMA dahulu?? Kalo sudah begini, bisakah sistem pendidikan Indonesia kita persalahkan? Atau keluarga sebagai elemen dasar pembentukan karakter manusia yang jadi kambing hitam?
Keika pertama kali masuk ITB saya diperlihatkan adanya budaya "gontok2an", saat wisuda, atau saat pertandingan olahraga misalnya. Saya coba tanya pada angkatan yang lebih tua, jawaban yang mereka beri tu, hal tersebut adalah hasil dari NKK/BKK yang dulu ada di kampus, yang membuat kaderisasi dalam kampus diatur sedemikian rupa sehingga mampu menjadi tameng idealisme mahasiswa pada saat itu. Untunglah dengan adanya beberapa peraturan dari rektorat, plus pergeseran paradigma dalam mahasiswa ITB, sehingga kaderisasi berlandaskan fisik dan budaya kekerasan lain hampir hilang dari kampus.
Tapi seminggu ini cukup kaget juga dengan kondisi ITB, sering banget ada acara musik, mulai dari Pasar Seni, kemudian Jazz Talk, dan beberapa acara yang diselenggarakan Apres. Warna-warni kampus mulai muncul, bagus untuk pengembangan otak kanan si.. Ada beberapa catatan dari acara musik tersebut, khususnya pada saat Pasar Seni. Hal pertama yang agak saya sesalkan adalah rokok sebagai sponsor (oke, ga masuk kampus si, "hanya" sampe gerbang), saya ga pengen bahas ini dulu. Kemudian hal kedua adalah penampilan yang sedikit "kurang senonoh" dari yang membawakan lagu dangdut (hei, sebelahnya Salman tu!), meskipun itu untuk menarik massa, cuman adalah cara2 yang lebih sopan.. Saya cuma ga ingin beberapa orang kaum hedonisme memanfaatkan "kemudahan" untuk menyelenggarakan acara2 itu untuk melenakan mahasiswa ITB. Katanya kan ITB kampus perjuangan =)Di saat bencana datang terus menerus, di Sidoarjo misalnya, mungkin ada solusi dari kampus yang bisa diberikan. Atau dari permasalahan bangsa lain, akselerasi negatif pendapatan negara dari sumber daya alam, kurangnya sumber energi dan sebagainya. Mari bergerak kawan2.. Produktif! (terutama diperuntukkan untuk saya sendiri)

0 Comments:
Post a Comment
<< Home